Senin, 16 Mei 2016

PERJUANGAN PETUGAS SENSUS

Sudah hampir tiga minggu kegiatan Sensus Ekonomi 2016 berjalan. Pengalaman-pengalaman menarik saya temukan di lapangan. Entah berupa pengalaman maupun cara untuk berhadapan dengan puluhan karakter manusia yang berbeda-beda. Disini saya belajar, ternyata saya harus memiliki kesabaran ekstra jika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki aneka ragam karakter.
Keberhasilan Sensus Ekonomi 2016 ini tidak terlepas dari perjuangan petugas sensus. Kerja keras petugas sensus ini mengajarkan kepada kita arti sebuah perjuangan. Sebuah perjuangan mengumpulkan data. Data dikumpulkan untuk kemudian disusun lalu dilakukan analisis lebih lanjut untuk menggambarkan suatu keadaan. Hasil dari Sensus Ekonomi ini kemudian dijadikan dasar dalam menentukan perencanaan pembangunan.
Lalu, mengapa saya katakan bahwa menjadi seorang petugas sensus adalah sebuah perjuangan? Karena banyak orang yang tidak menyadari kami ada, tidak mengetahui apa yang kami kerjakan, dan untuk apa kami mengerjakannya. Seringkali kami hanyalah dianggap orang-orang ‘kurang kerjaan’ atau bisa juga dianggap kepo dalam bahasa gaul saat ini karena menanyakan hal-hal yang dianggap dirahasiakan seperti berapa jumlah tenaga kerja, berapa pendapatan perbulan dan pertahunnya serta berapa pengeluaran dari usaha yang dilakukan oleh responden. Pertanyaan sederhana, yang jawabannya sebenarnya menentukan nasib bangsa ini ke depannya. Masalahnya adalah, Anda tidak akan merasakan dampak langsung dari hasil pekerjaan kami. Seorang guru jelas-jelas memberikan ilmu kepada anak didiknya, dalam proses belajar mengajar. Layanan apa yang diberikan seorang petugas sensus? Tanpa Anda sadari, kami adalah para ‘penyambung lidah’. Lewat pertanyaan-pertanyaan kami, kami mencatat keadaan Anda. Untuk kemudian kami teruskan kepada Pemerintah negeri ini, seperti inilah potret kehidupan masyarakatnya.
Memang yang bisa kami berikan hanya sebatas data, karena kami tidak diberi kewenangan untuk menentukan kebijakan. Ketidaktahuan Anda terhadap keberadaan kami menjadikan tugas kami menghadapi serangkaian kesulitan. Penolakan Anda terhadap kedatangan kami, menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Atau sikap Anda yang menjawab sekenanya terhadap pertanyaan-pertanyaan kami. Bagaimana mungkin kami bisa menyediakan data yang akurat jika Anda tidak menganggap kami ada dan memiliki tugas yang nyata, yang berpengaruh terhadap bagaimana Pemerintah negeri ini akan melayani Anda? Beberapa di antara kami menyeberangi lautan, mendaki gunung, untuk mengumpulkan jawaban dari pertanyaan demi pertanyaan dalam Sensus Ekonomi ini. Beberapa di antara kami bekerja sampai jauh malam, karena kesibukan Anda menyebabkan kami hanya bisa menemui Anda di waktu malam, karena Anda tak ingin akhir pekan Anda diganggu oleh keberadaan kami. Beberapa di antara kami menjadi teman ‘curhat’ Anda terhadap kondisi pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat di negeri ini. Beberapa di antara kami harus puas berhadapan dengan anjing penunggu rumah karena bukan tamu yang ditunggu pemilik rumah, sehingga pemilik rumah menganggap kami tidak layak untuk ditemui, dan mengutus anjing penjaga rumah untuk menjawab salam kami. Dan beberapa dari kami terbiasa menghadapi pengusiran pemilik rumah, karena disangka sebagai petugas pengumpul sumbangan.
Tentunya saya menceritakan profesi saya ini kepada Anda bukan dengan maksud mengeluh. Tapi untuk mengenalkan profesi saya kepada Anda. Sehingga dipertemuan kita selanjutnya, Anda dapat menerima para petugas sensus tadi, menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan apa adanya. Sehingga, data yang kami berikan kepada Pemerintah ini menjadi semakin sesuai dengan keadaan sebenarnya. Menanamkan sebuah pengertian, bahwa jawaban Anda menentukan masa depan bangsa. 
Sensus ekonomi merupakan bentuk pengabdian, dalam menghasilkan data yang penting, bagi proses pembangunan dan seluruh lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan SE 2016 selaras dengan program Nawacita pemerintah, yaitu Nawacita ke-6 (Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya). Serta Nawacita ke-7 (Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik).  Data SE 2016 ini juga dapat memotret daya saing bisnis di Indonesia dan menentukan posisi perekonomian Indonesia di antara negara-negara di kawasan regional maupun internasional. Hal ini menjadi penting mengingat bahwa saat ini Indonesia telah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), yang sudah barang tentu harus diantisipasi dan disikapi secara cermat dan cerdas. Untuk itu, hasil sensus yang akurat sangat diharapkan dalam sensus ekonomi ini. Jika data yang diperoleh tidak sesuai dengan fakta yang ada di masyarakat, maka perencanaan pembangunan tentu tidak sesuai dengan kondisi masyarakat. 

Sabtu, 23 April 2016

ANGKA PRODUKSI KEDELAI

Sabtu pagi ini masih seperti sabtu pagi minggu-minggu yang lalu. Rutinitas bangun pagi, sarapan, mengantar kedua buah hati berangkat sekolah dan kemudian membaca koran. Tapi menjadi istimewa  ketika mata ini membaca sebuah judul berita “Gakopindo Keluhkan Akurasi Data BPS”, korsa penulis sebagai seorang statistisi tersulut, keinginan untuk meluruskan bangkit. Sebagai sebuah produk manusia data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mungkin banyak mengalami kekurangan, tapi dari pernyataan ketua umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) dapat membentuk opini yang salah terhadap data yang dihasilkan oleh BPS. Statistik yang tidak akurat bakal memberi gambaran yang keliru mengenai arah pembangunan ekonomi nasional. Kita bisa saja menyangka tengah bergerak ke arah kemajuan. Padahal faktanya, hal tersebut hanyalah ilusi yang disajikan oleh angka-angka statistik. Sebaliknya, kita justru tengah mengalami stagnasi atau bergerak ke arah yang salah dan berlawanan.
Peran strategis data-data statistik dewasa ini juga memberi konfirmasi bahwa statistik resmi yang dirilis BPS harus obyektif. Pasalnya, statistik tersebut ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengklaim keberhasilannya dalam menjalankan roda pembangunan. Namun di sisi lain, angka yang dirilis BPS juga dapat menjadi senjata ampuh pihak oposisi untuk mengkritisi dan menyerang kinerja pemerintah.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara mengevaluasi angka produksi yang ketinggian tersebut, apa yang harus dievaluasi? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu harus dipahami terlebih dahulu bagaimana sebetulnya angka produksi kedelai nasional itu dihitung. Dengan demikian, bagian mana yang harus dievaluasi dan perlu dibenahi bisa ditemukan.
Penghitungan produksi kedelai berdasarkan dua komponen, yaitu produktivitas dan luas panen, dimana kedua komponen ini diperoleh dari sistem pengumpulan data yang berbeda. Mantan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sugito Suwito menyebutnya sebagai hasil kompromi dua sistem yang berbeda: laporan administrasi (administrative records) dan pengukuran obyektif (objective measurement) dengan menggunakan pendekatan metode statistik (probability sampling). 
Dalam prakteknya, perhitungan luas panen menjadi tanggungjawab instansi lain. Penaksiran luas panen dilakukan sepenuhnya oleh aparat instansi diluar BPS dengan menggunakan pendekatan melalui sistem blok pengairan, penggunaan bibit, dan berdasarkan pandangan mata (eye estimate) di sawah. Belakangan, pendekatan yang terakhir merupakan cara yang paling sering digunakan. Dengan cara seperti itu hasil penaksiran tentu sangat subyektif dan sulit diuji secara statistik akurasinya. Pengalaman dan jam terbang petugas juga sangat menentukan akurasi hasil penaksiran luas panen.
Sementara itu, data produktivitas merupakan tanggung jawab BPS. Penaksiran produktivitas dilakukan melalui survei statistik dengan mengobservasi sampel plot ubinan yang dipilih menurut kaidah statistik. Pemilihan sampel dilakukan oleh BPS. Hasil pengukuran luas panen dan produktivitas kemudian diolah oleh BPS untuk menghasilkan angka produksi kedelai nasional (official statistics) yang kemudian disebut sebagai “angka BPS”. Penyebutan angka BPS membawa konsekuensi bahwa apapun yang terjadi pada angka tersebut, terutama soal akurasi dan validitasnya, BPS yang harus bertanggung jawab, BPS yang harus “pasang badan”. Begitulah gambaran singkat bagaimana produksi kedelai nasional dihitung. 
Kalau mau jujur, jika diasumsikan angka produksi kedelai yang ada selama ini menderita overestimate, kontributor utamanya adalah angka luas panen yang jauh dari akurat. Betapa tidak, perkiraan luas panen masih mengandalkan metode pandangan mata (eye estimate). Menyadari hal tersebut, saat ini BPS sedang melakukan ujicoba untuk mengembangkan metode penaksiran luas panen yang berbasis objective measurement, seperti pemanfaatan data citra satelit dan pendekatan wawancara terhadap rumah tangga. Semoga ikhtiar yang baik ini menemui tujuannya, yakni menghasilkan metode perhitungan luas panen yang lebih akurat.

Sabtu, 02 April 2016

KRITIK

Saat kita mengerjakan sesuatu atau menjabat sesuatu seharusnya saat itu juga kita harus siap dengan yang namanya kritik. Karena sebuah kritikan sejatinya akan memberikan masukan terhadap suatu hal untuk menjadi yang lebih baik.
Kata kritik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.
Tapi yang kita temui saat ini ada banyak pemimpin yang alergi akan kritik, kuping mereka akan merasa gatal dan kepala mereka menjadi panas apabila kebijakan yang mereka ambil mendapat kritikan dari masyarakat atau orang yang dipimpinnya. Mereka merasa kritikan menjadi batu sandungan yang harus segera disingkirkan atau jika perlu segera dilenyapkan. Alih-alih berterimakasih, yang ada sang pengeritik akan balik diserang sebagai pihak yang usil, iri hati, sentimen atau tak bisa diajak bekerjasama. Pada era Orde Baru, kritik malah menuai penjara bahkan kematian. Seolah-olah kritik adalah prilaku yang tidak pantas dan layak hanya dilakukan oleh musuh negara.
Bisa jadi kebanyakan manusia Indonesia memandang kritik sebagai hinaan. Sebagai bangsa yang sangat mengagungkan “pencitraan” sepertinya kita lebih merasa nyaman hidup dengan pujian dan pujaan. Padahal puji dan puja, jika tak bijaksana menyikapinya, hanya akan menjadikan kita “jalan di tempat”. Itu masih untung, banyak orang yang panen pujian lupa, lantas “meluncur bebas” menuju keterpurukan kualitas sebagai manusia  yang lebih banyak mengakomodasi “sang aku”.
Dalam sejarah Islam tradisi mengkritik bukanlah sesuatu yang asing. Pada saat perang Badar Rasulullah pernah dikritik oleh seorang sahabat mengenai strategi perang. Beliau dengan jiwa yang besar mengakui pendapat sahabat tersebut lebih baik dari pendapatnya. Dan kemudian sejarah mencatat, strategi tersebut sangat ampuh dan menjadikan kaum muslimin bisa memenangkan pertempuran.
Perlu diingat, tidak semua orang dapat memahami kritik dengan baik. Jadi, sebaiknya kemukakan kritik dengan hati-hati. Ucapkanlah kata-kata dengan ramah. Pastikan orang yang anda kritik memahami kata-kata yang disampaikan.
John C. Maxwell dalam bukunya yang berjudul ”Leadership”, promises for every day, memberikan 7 (tujuh) hal yang harus kita perhatikan agar kritik yang disampaikan itu membangun dan membuat orang yang dikritik tidak merasa dikritik, malahan akan berterima kasih karena dikritik. Ketujuh hal tersebut adalah motif memberikan kritik adalah menolong bukan menjatuhkan, pastikan bahwa hal yang dikritik layak untuk dikritik, kritik harus spesifik dan kemukakan hal yang dikritik dengan jelas, jangan merusak kepercayaan diri atau identitas yang dikritik perlihatkan secara jelas bahwa kita menghargai yang dikritik, jangan tunda kritik yang diperlukan, lihat masalah dari sisi orang yang akan dikritik, akhiri kritik dengan hal yang memberi semangat serta catatan yang positif.
Menghadapi orang yang tidak suka dikritik itu tidak mudah. Anda perlu berhati-hati dalam memilih kata dan menjaga intonasi suara. Kritik juga menjadi hal yang menyakitkan bagi seseorang. Namun, jika seseorang tidak pernah dikritik, ia akan kesulitan dalam mempelajari hal-hal penting pada kemudian hari. 
Kritikan adalah bagian dari harga yang harus kita bayar untuk melewati keadaan biasa-biasa saja. Terkadang kita semua lebih senang mendapat masukan yang positif, pujian dan penghargaan. Hal tersebut memang baik agar kita mengetahui bahwa kita telah berada di jalur yang tepat dan sebagai support untuk pencapaian kita. Namun saat kritik datang kita sering mulai merasa down dan putus asa. Padahal sebenarnya kita dapat menjadikan kritik sebagai suatu feedback untuk perkembangan dan pertumbuhan kita secara pribadi. Kuncinya adalah kita perlu belajar bagaimana menghadapi dan menggunakan setiap feedback negatif untuk kemajuan kita. Biasanya ada banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari setiap feedback yang negatif kalau saja kita dengan sungguh-sungguh mau mencarinya dan belajar dari hal tersebut. Biasakanlah diri kita untuk selalu belajar bukan hanya dari pengalaman yang positif melainkan juga dari pengalaman yang negatif.

Senin, 28 Maret 2016

KEMISKINAN

Dinas Sosial Kabupaten Berau baru-baru ini merilis bahwa angka kemiskinan di Kabupaten ini mengalami penurunan dari tahun 2014 yang berjumlah 4.426 Kepala Keluarga  menjadi 3.657 Kepala Keluarga pada tahun 2015. Sementara Badan Pusat Statistik merilis angka kemiskinan di Kabupaten Berau pada tahun 2014 sebesar 9.770 rumah tangga atau 4,76%, angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2013 sebesar 10.200 rumah tangga atau 5,25%.  Melihat angka ini sepatutnya kita merasa gembira karena itu berarti pembangunan yang berlangsung di Kabupaten Berau berhasil dalam artian perekonomian membaik sehngga jumlah penduduk miskin berkurang, walaupun sebenarnya perlu kita telaah lebih lanjut mengingat ketersediaan lapangan pekerjaan di Kabupaten Berau yang semakin berkurang seiring dengan lesunya gairah dunia pertambangan di Berau.
Pada Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2015, Kemensos menyediakan tambahan atau buffer 500 ribu rumah tangga sasaran (RTS) dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) sebanyak 1,7 juta jiwa. Tambahan anggaran yang diminta mencapai Rp 6,7 triliun.  Hal itu dilakukan karena masih ditemukan inclusion error dan exclusion error penerima manfaat perlindungan sosial dari kartu keluarga sejahtera (KKS), kartu Indonesia pintar (KIP), dan kartu Indonesia sehat (KIS). Kita harus mengapresiasi usaha-saha itu. Namun adanya sejumlah program yang belum tepat sasaran menjadi beberapa faktor yang menyebabkan pengentasan kemiskinan menjadi hal yang tidak mudah. Ditambah lagi dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang masih  sebesar 4,67 persen  sangat mempengaruhi ekonomi domestik, terutama sektor konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,9 persen. Padahal konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar terhadap pertumbuhan.
Pengukuran kemiskinan bukanlah perkara yang mudah. Pasalnya, kemiskinan bersifat multi dimensi, dinamis, dan sangat kualitatif. Karena itu, hingga kini, tak ada satupun metode yang betul-betul sempurna dalam memotret kemiskinan.
Di Indonesia, perhitungan jumlah penduduk miskin menggunakan pendekatan moneter. Artinya, pengukuran kemiskinan didekati dari sisi pendapatan/pengeluaran.Dalam prakteknya, BPS menghitung garis kemiskinan, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Penduduk dengan pengeluaran per bulan di bawah garis kemiskinan selanjutnya disebut miskin. Sementara itu, terminologi penduduk hampir miskin (near poor) merujuk pada mereka yang tidak termasuk miskin tapi sangat rentan untuk jatuh miskin. Karena, pengeluaran mereka dalam sebulan hanya berselisih tipis dengan garis kemiskinan. Kondisi ini mengakibatkan, penduduk miskin dan hampir miskin seringkali sulit dibedakan dalam kahidupan sehari-hari. Secara kuantitatif, penduduk hampir miskin umumnya merujuk pada mereka yang memiliki pengeluaran 100-150 persen garis kemiskinan. Artinya, jika garis kemiskinan saat ini sebesar Rp 350 ribu per bulan, penduduk hampir miskin adalah mereka yang memiliki pengeluaran per kapita per bulan antara Rp 350 ribu – Rp 525 ribu.
Pertumbuhan ekonomi, kenyataannya, lebih menguntungkan penduduk kelas menengah dan kaya karena lebih digerakkan oleh sektor jasa (non tradable) ketimbang sektor riil (tradable). pertumbuhan ekonomi kian jauh dari semangat pro-poor. Karena faktanya, pertumbuhan yang terjadi memiliki sensitifitas yang lemah terhadap penurunan kemiskinan.
Kaum miskin tidak salah, tetapi masyarakat (kita) tidak pernah memberi mereka lingkungan yang tepat untuk tumbuh. Yang kita perlukan untuk membuat penduduk miskin terbebaskan dari kemiskinan adalah menciptakan sebuah lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang dengan baik. Begitu mereka mampu memanfaatkan potensi, energi dan kreativitas mereka, kemiskinan akan segera terbebaskan.

Rabu, 23 Maret 2016

MENJADI RESPONDEN KOOPERATIF

Gaung Sensus Ekonomi 2016 semakin terasa, berbagai macam spanduk, baliho, leaflet dan berbagai media sosialisasi lainnya telah gencar mewartakan kegiatan SE2016 tersebut. Kegiatan besar sepuluh tahun sekali ini secara tidak langsung juga menguras segenap energi yang ada pada seluruh pegawai Badan Pusat Statistik Kabupaten Berau. Bulan Mei 2016 nanti seluruh petugas SE2016 akan turun kelapangan untuk memperoleh data yang akurat.
Menjadi ujung tombak Sebagai institusi pemerintah yang diamanahi tugas memotret sejarah pembangunan negeri ini dengan data, Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menyajikan berbagai rupa data statistik untuk memuaskan kebutuhan pengguna data,  pemerintah dan publik secara luas. Data-data tersebut dihasilkan melalui sejumlah kegiatan statistik, baik sensus maupun survei. Karena yang hendak dipotret adalah gambaran tentang Indonesia yang maha luas, kegiatan statistik, sensus maupun survei bukan merupakan pekerjaan yang enteng dan remeh. Rangkaian kegiatan mulia dari perencanaan, pengumpulan data di lapangan, pengolahan, hingga data siap tersaji sebagai statistik resmi (official statistics) di ruang publik sangat menguras tenaga dan pikiran. Bayangkan, betapa lelahnya jika Anda diminta mengumpulkan data mengenai pola konsumsi ratusan sampel rumah tangga melalui proses wawancara yang menghabiskan waktu tak kurang dari dua setengah jam dengan berbekal kuesioner yang berisi lebih dari 300 item pertanyaan. Atau, bila Anda diminta mengumpulkan keterangan demografi dari sekitar 60 ribu lebih rumah tangga yang tersebar di seluruh Kabupaten Berau. Tentu bukan pekerjaan yang ringan. Di pundak para petugas statistiklah kesuksesan setiap kegiatan pengumpulan data disandarkan.
Petugas Statistik adalah ujung tombak BPS, penentu kualitas serta akurasi data-data yang tersaji di ruang publik. Di dalam statistik ada ungkapan, garbage in garbage out. Jika (data) sampah yang masuk, maka sampah pula yang keluar, kurung lebih seperti itu maknanya. Karena itu, jika sampah yang mereka kumpulkan, maka sampah pula hakekatnya yang tersaji di ruang publik. Tanpa dedikasi petugas statistik yang luar biasa tak akan tersaji di depan Anda data-data seperti inflasi, jumlah penduduk miskin, rasio gini, jumlah orang menganggur, produksi padi, dan nilai tukar petani. Data-data tersebut ibarat lentera untuk membangun negeri ini. Karena tanpa data sebagai dasar perumusan dan pengambilan kebijakan, mustahil membangun negeri ini dengan baik. Sungguh tanggungjawab yang tidak ringan. Bayangkan, apa jadinya jika berbagai kebijakan di kabupaten ini, yang menghabiskan milyaran uang rakyat, dieksekusi berdasarkan data-data sampah, yang melenceng jauh dari realitas sesungguhnya. Tentu sebuah dosa kepada bangsa dan negara. Namun patut diperhatikan, Anda sebagai responden (sumber data) juga amat menentukan kualitas data yang dikumpulkan oleh para petugas BPS. Pada akhirnya, dedikasi mereka yang luar biasa dan semangat mereka yang berkobar dalam mengumpulkan data tak akan berguna jika data yang  Anda berikan adalah “sampah”, apalagi jika Anda sampai menolak untuk diwawancarai. Mari bekerjasama membangun negeri ini dengan menjadi responden yang baik dan kooperatif.
Sensus Ekonomi 2016 yang datang pada tanggal 1 Mei 2016 ini juga memiliki kesulitan yang cukup besar dilapangan, karena responden yang didata adalah pengusaha atau kegiatan usaha. Sebagaimana kita tahu masih banyak pengusaha di Kabupaten Berau ini yang alergi apabila pertanyaan sudah menyangkut pendapatan dan pengeluaran. Walaupun sudah berulangkali disampaikan bahwa semua kegiatan sensus dan survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik kerahasiaannya dijamin oleh Undang-Undang nomor 16 tahun 1997 tentang Statistik. Ada banyak alasan mereka untuk menghindari pertanyaan tersebut, dari yang merasa tidak tercatat dengan baik maupun yang merasa enggan rahasia perusahaannya diketahui oleh orang lain.
Sebetulnya berdasarkan Undang-Undang No.16 Tahun 1997 tentang statistik, menolak didata oleh petugas BPS tanpa alasan yang dibenarkan adalah perbuatan melawan hukum (pidana). Karena itu, BPS dapat mempidanakan responden yang menolak untuk didata tanpa alasan yang dibenarkan. Ancaman hukuman bagi responden yang menolak memberi ketarangan dalam penyelenggaraan statistik (sensus dan survei) lumayan berat, yakni kurungan maksimal 1 tahun dan denda maksimal Rp25.000.000,-. Meskipun kerap mendapat penolakan saat sensus dan survei, selama ini BPS tidak pernah mempidanakan responden. Sekalipun ruang untuk itu sangat terbuka, BPS lebih memilih cara-cara yang lebih persuasif lewat sosialisasi untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya statistik. Karena itu, mari menjadi responden yang kooperatif untuk pembangunan negeri.

Jumat, 19 Februari 2016

Matematika Kehidupan

Kehidupan ini layaknya matematika yang penuh dengan perhitungan dan rumus untuk memecahkan segala sesuatunya. Boleh jadi sebagian dari kita merasa jengah, alergi atau bahkan trauma dengan matematika. Walaupun beragam pernyataan dapat dilontarkan untuk mencerminkan “ketidakpedulian” terhadap matematika, namun demikian, manusia selalu menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Karena hampir dalam setiap aktivitas sehari-hari entah disadari atau tidak kita pasti menggunakan Matematika. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi. Dalam keahlian bermatematika kita dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah dengan benar, sekaligus kita diberi kebebasan untuk menjawab dengan berbagai cara asalkan jawabannya benar dan dengan cara yang benar. Seperti kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”. Namun, jika caranya salah atau salah dalam menuliskan satu angka saja hasil akhirnya juga salah. Disini kita diminta untuk jujur dalam menyelesaikan masalah yang ada dengan cara yang benar dan teliti. Karena jika kita menjawab soal matematika dengan tidak jujur, maka hasilnya? Dapat kita bayangkan sendiri. Dalam belajar Matematika juga dapat belajar tentang nilai kejujuran
Dalam teori operasional matematika, murid-murid diajarkan bahwa jika dihadapkan oleh suatu persamaan bilangan urutan tertinggi dalam operasional adalah perkalian, disusul penjumlahan, kemudian pengurangan dan terakhir pembagian. Begitupula dengan esensi dan fakta dalam kehidupan manusia bahwa, manusia lebih cenderung untuk memilih dan mengawali sesuatu dengan mengalikan jika perlu menambahkan daripada harus mengurangi apalagi harus membagi, yang mana hal itu merupakan pilihan yang sulit untuk dilakukan oleh kita sebagai manusia biasa.
Sebagai manusia kita akan dengan mudah menambah, mengurangi atau mengalikan apa yang kita peroleh, akan tetapi menjadi suatu hal yang berat dan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu ketika mereka harus membagi apa yang diperolehnya itu. Sudah banyak kita dengar pimpinan yang tidak disukai oleh anak buahnya karena dia tidak mampu berbagi, pemimpin tersebut hanya mampu mengurangi apa yang seharusnya diperoleh orang yang dipimpinnya atau berapa banyak kasus korupsi yang kita baca di media cetak atau kita lihat di TV, ini semua tidak lain karena mereka hanya mampu mengali, menambah dan mengurangi tanpa mampu membagi.
Coba kita renungkan pembagian berikut ini, saat 1 ÷ 2 maka hasilnya ½, 1 ÷ 1 hasilnya 1 tetapi saat kita membagi 1 dengan 0 maka hasilnya adalah tidak terhingga. Maknanya adalah kalau kita melakukan perbuatan baik, kemudian kita mengharapkan balasan atas perbuatan itu, maka semakin kita banyak berharap hasilnya akan semakin kecil. Tetapi ketika kita melakukannya dengan ikhlas, tanpa mengharapkan sesuatu imbalan apapun, sama dengan 1 ÷ 0, maka hasilnya akan “Tak Terhingga” yang artinya Allah akan memberikan balasan atas keikhlasan kita dengan balasan yang tak terhingga.
Sebuah negara jika ingin maju maka hendaklah manusia yang ada di dalamnya terdidik menjadi manusia matematis. Mulai dari pimpinannya, sehingga rakyat atau anak buahnya pun pasti akan mencontoh dirinya. Manusia matematis adalah manusia yang selalu mempertimbangkan baik buruknya suatu perbuatan. Manusia matematis adalah manusia yang selalu menghitung dengan sebenar-benarnya tentang setiap perbuatan dan perkataan yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keburukan. Manusia matematis adalah manusia yang selalu dengan sadar apa yang harus dijumlahkan, dikurangi, dibagikan, dan terkahir dikalikan.
Akhirnya, marilah kita menyadari akan kehidupan kita yang selalu saja bangga dengan harta, jabatan, dan keindahan rupa kita. Padahal, belum tentu apa yang kita banggakan tersebut benar-benar mendatangkan kebanggaan dari Allah, Tuhan yang memberikan kita titipan. Jangan sampai kita termasuk menjadi manusia yang hanya pandai mengalikan, menambah atau mengurangi tanpa mampu membagi. Hendaklah kita selalu mencari kesempatan untuk “memberi” bukan “mengambil”.

Jumat, 29 Januari 2016

MENANTI PEMIMPIN BARU

Tahun baru 2016 telah tiba, suara terompet dan letusan kembang api pun telah usai. Memasuki hari baru di tahun 2016 ini semua warga Berau telah menantikan pemimpin baru yang akan membawa Kabupaten yang kita cintai ini menuju hari esok yang lebih cemerlang. Pemimpin yang mampu membawa solusi bukan bagian dari masalah. Pemimpin yang mampu mengkonversi harapan menjadi kenyataan dan pemimpin yang mampu menunjukan keberpihakan kepada rakyat walaupun nantinya tidak populis.
Kita semua patut bangga, Indonesia tumbuh menjadi kekuatan demokrasi terbesar di dunia. Pilkada Serentak yang berjalan relatif lancar merupakan indikator kematangan demokrasi. Tapi keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika demokrasi berhasil melahirkan pemimpin yang berkarakter, visioner, jujur dan mampu menjawab kompleksitas permasalahan yang timbul. Pemimpin  bukanlah hanya sekedar sosok yang kerap nampang di baliho, melainkan figur serba bisa yang mengerti terhadap kebutuhan rakyatnya.
Pilkada langsung oleh rakyat Berau menumbuhkan harapan lahirnya pemimpin Berau yang ideal. Bahkan, tidak sedikit rakyat di Berau yang memimpikan lahirnya "Satria Piningit" dari proses pilkada kemarin, yang diandalkan menjadi orang di garis paling depan untuk menampilkan teladan melayani rakyat, memperjuangkan keadilan bagi rakyat dan pada akhirnya mempersembahkan kesejahteraan bagi rakyat.
Masyarakat Berau saat ini menunggu pemimpin yang mampu melayani rakyatnya, bukan pelayan elit politik, pelayan partai, pelayan pengusaha atau siapapun yang memiliki kepentingan terbatas kelompok dan diri sendiri.
Kabupaten Berau merupakan daerah yang kaya akan hasil alam, ditangan pemimpin yang baru nanti kita pastinya memimpikan kabupaten ini menjadi semkain maju dan mampu bersaing dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia. Tidaklah salah jika kita menggantungkan harapan bahwa saat pemimpin baru nati anak-anak kita sudah bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi yang telah terakreditasi dan memiliki beragam fakultas yang ada, atau kita juga menggantungkan impian bahwa nantinya kita bisa berobat dengan murah dan fasilitas yang lengkap sehingga semua tindakan perawatan dan penyembuhan dapat dilakukan oleh rumah sakit yang berada di Kabupaten Berau.
Keanekaragaman potensi yang dimiliki kabupaten Berau membawa tantangan dan kewajiban bagi pemerintah daerah bersama stakeholder terkait untuk senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik dari berbagai aspek, baik dibidang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan maupun dibidang kemasyarakatan, termasuk didalamnya kegiatan perekonomian daerah, terutama yang berorientasi ekonomi kerakyatan.
Marilah kita tunggu pelayanan yang akan diberikan oleh pemimpin baru nanti, kita tunggu pemimpin yang mampu membawa Berau melangkah bahkan berlari ke masa depan.
" The first responsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In between, the leader is a servant. ” ( Max DePree )